Komdigi Fasilitasi Radio di Kalbar Peningkatan Kualitas Penyelenggara Radio di Kalbar

- Publisher

Jumat, 21 November 2025 - 11:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komdigi Fasilitasi Radio di Kalbar dengan menggelar acara Peningkatan Kualitas Penyelenggara Radio dengan fokus: radio beradaptasi pada digital

Komdigi Fasilitasi Radio di Kalbar dengan menggelar acara Peningkatan Kualitas Penyelenggara Radio dengan fokus: radio beradaptasi pada digital

Komdigi Fasilitasi Radio di Kalbar dengan menggelar acara Peningkatan Kualitas Penyelenggara Radio dengan fokus: radio beradaptasi pada digital

Kementerian Komunikasi & Digital (KOMDIGI) Republik Indonesia menggelar kegiatan yang mengajak insan radio di Kalimantan Barat. Kegiatan ini digelar untuk memastikan penyelenggara Radio di Kalbar agar mampu bertahan dan berdaya saing.

Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pos dan Penyiaran KOMDIGI di Hotel Harris Pontianak pada Kamis (23/10/2025) dihadiri oleh para pengelola radio swasta se-Provinsi Kalimantan Barat. Pesan kunci yang disampaikan sangat mendesak: siaran radio analog saja tidak lagi cukup. Radio harus bertransformasi penuh, harus hadir, dan beresonansi kuat di ruang digital.

Petrus Nurtrio Harjessi, PIC Fasilitasi Lembaga Penyiaran KOMDIGI, menegaskan bahwa kualitas penyelenggaraan penyiaran kini tidak hanya diukur dari kekuatan sinyal, tetapi dari kemampuan adaptasi. Inilah inti dari upaya Komdigi Fasilitasi Peningkatan Kualitas Penyelenggara Radio di Kalbar, yaitu membekali SDM dengan mindset digital yang revolusioner.

Ancaman Digitalisasi dan Kesenjangan Audiens

Para praktisi yang hadir dihadapkan pada data yang memaparkan tantangan serius: revenue industri radio yang terus merosot, SDM kreatif yang kurang, dan distrupsi media digital yang tak terhindarkan. Alat ukur pendengar radio konvensional tidak mampu bersaing dengan analitik real-time platform digital, menyebabkan radio semakin menjauh dari audiensnya.

Kesenjangan dengan pendengar semakin terasa. Tidak adanya terobosan baru membuat radio semakin jauh dari audiensnya. Data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) memperkuat kondisi ini: pengguna smartphone nasional mencapai 97,5%, menunjukkan perpindahan audiens yang hampir total. Fakta bahwa pengguna radio terendah tercatat 48,85% di wilayah seperti Kepulauan Mentawai menjadi cerminan bahwa radio harus mewujudkan inovasi total.

Angka-angka ini menjadi desakan keras. Di era digital, radio harus mewujudkan strategi yang bisa bersaing. Pemerintah, melalui dukungan teknis Komdigi yang fasilitasi Radio di Kalbar, berusaha menutup celah tersebut. Ini bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang menemukan model bisnis baru.

Baca Juga :  Daftar Istilah Umum dalam Dunia Radio

Revolusi Peran: Penyiar adalah Influencer

Salah satu solusi paling strategis yang dibahas dalam kegiatan ini adalah mendefinisikan ulang peran penyiar. Bonny Prasetya dari FDR (Forum Diskusi Radio) menyoroti bahwa iklan analog sudah terpecah, dan radio harus secara proaktif mencari revenue di dunia iklan digital. Program analog saja tidak lagi cukup untuk menopang industri.

Pati Perkasa – Konsultan Radio dan Digital mendorong penyiar untuk tidak hanya bersiaran, tetapi juga menjadi seller yang efektif di platform digital? Ini adalah tentang bagaimana memonetisasi talenta mereka bertransformasi dari sekadar penyampai pesan menjadi influencer atau afiliator yang memiliki nilai jual kredibel di mata pengiklan digital.

Aspek jurnalisme diperkuat dengan kehadiran Eddy Prastyo (Pemred SS Media) yang secara spesifik berbicara tentang bagaimana jurnalisme radio dapat menghasilkan pendapatan melalui media sosial. Konten berita audio dapat dikemas ulang menjadi konten visual pendek yang menarik, menghasilkan engagement dan potensi monetisasi baru.

Para pakar turut memperkaya diskusi. Chandra Noviardi, Direktur Radio Female Jakarta dan Ketua Dewan Kehormatan SNI PRSSNI, memberikan panduan konkret tentang integrasi podcast dan media sosial sebagai kanal revenue yang berkelanjutan, sebuah langkah penting dalam Peningkatan Kualitas Penyelenggara Radio di Kalbar.

Kualitas Penyiaran Melalui Sinergi Pakar

Program Komdigi Fasilitasi Radio di Kalbar ini berhasil menyatukan praktisi terkemuka. Rangga Gilang dari MRA Broadcast Media membagikan kiat praktis tentang branding penyiar dan optimalisasi engagement audiens.

Hadir pula Raditha Prahasta (Dirut radio Unisi Yogyakarta), Wisaksono Adi (inahealth Yogyakarta), dan Yusup David (ISI Yogyakarta) yang memperkuat pemahaman peserta dengan kerangka teoretis. Mereka mendalami bagaimana kualitas konten audio harus diolah agar relevan di berbagai platform. Sinergi ini menjamin peserta mendapatkan bekal yang holistik.

Baca Juga :  Program Radio Tengah Malam Teman Kesepian: Oase di Balik Sunyinya Frekuensi

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 18.00 WIB pada 20 November 2025 ini menunjukkan komitmen penuh. Setiap stasiun radio siaran swasta di Kalimantan Barat, sebagai peserta, diajak untuk menganggap forum ini sebagai investasi terbesar mereka dalam menghadapi masa depan, demi Peningkatan Kualitas Penyelenggara Radio di Kalbar.

Semangat Baru untuk Radio Lokal di Kalbar

Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa kegiatan ini sangat dinantikan. Mereka melihat bahwa recharge digital adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan relevansi.

Salah satu penyiar yang hadir, Maya Puspita menyatakan kegembiraannya. “Ini benar-benar membuka mata. Selama ini kami hanya tahu siaran di analog, tapi setelah mendapat materi tentang monetisasi penyiar dan bagaimana menjadi influencer, kami jadi sadar bahwa peluang revenue kami di digital itu sangat besar. Strategi ini harus kami terapkan segera!” ujarnya dengan semangat.

Eri seorang manajer stasiun radio, menambahkan, “Kami sangat senang dengan Peningkatan Kualitas Penyelenggara Radio di Kalbar yang difasilitasi Komdigi ini. Paling berharga adalah bagaimana kami diajarkan untuk menjadikan data digital sebagai panduan utama, bukan hanya intuisi. Kami tidak lagi merasa sendirian menghadapi distrupsi,” ungkapnya penuh harapan.

Dengan bekal strategi digital yang komprehensif, radio di Kalimantan Barat kini siap menghadapi tantangan. Mereka bukan lagi sekadar pemancar suara, melainkan pusat konten yang multitalenta, membuktikan bahwa media tertua ini masih memiliki tempat yang kuat, berdampak, dan menghasilkan di tengah era digital.

Sumber Berita: Gencilnews

Berita Terkait

Donny Fattah Meninggal Dunia: Legenda Bassist God Bless Tutup Usia
MacBook Neo Resmi Meluncur: Laptop Apple Paling Terjangkau!
FDR Summit Surabaya 2026: Kolaborasi dan Networking Radio
Link Live Streaming MotoGP Thailand 2026 dan Jadwal Balap
Konser Dewa 19 di Kuala Lumpur 2026: Tyo Nugros Ikut Serta
Lusy Laksita Tutup Usia: ‘Mama Lusy’ Legenda Radio Yogyakarta Yang Tak Lelah Berbagi Ilmu
Nomor Anggota FDR Indonesia Update Januari 2026
Orang Tua Wajib Tahu, Jadwal Libur Sekolah Ramadan dan Lebaran 2026

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 14:53 WIB

Donny Fattah Meninggal Dunia: Legenda Bassist God Bless Tutup Usia

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:46 WIB

MacBook Neo Resmi Meluncur: Laptop Apple Paling Terjangkau!

Rabu, 4 Maret 2026 - 09:04 WIB

FDR Summit Surabaya 2026: Kolaborasi dan Networking Radio

Minggu, 22 Februari 2026 - 21:50 WIB

Konser Dewa 19 di Kuala Lumpur 2026: Tyo Nugros Ikut Serta

Senin, 16 Februari 2026 - 08:42 WIB

Lusy Laksita Tutup Usia: ‘Mama Lusy’ Legenda Radio Yogyakarta Yang Tak Lelah Berbagi Ilmu

Berita Terbaru

Radio belum hilang di era digital. Kedekatan penyiar, kemudahan akses, dan kejutan lagu membuat banyak orang masih setia mendengarkannya.

Opini

3 Alasan Orang Masih Mendengarkan Radio di Era Digital

Kamis, 5 Mar 2026 - 16:35 WIB

Pada masa awal siaran, Suara Surabaya tidak langsung menggunakan format berita. Radio ini sempat memutar berbagai jenis musik seperti musik klasik dan jazz.

foto : Istimewa

Profil

Suara Surabaya FM 100 dari 1983 hingga Kini

Rabu, 4 Mar 2026 - 09:45 WIB