Kabar duka Lusy Laksita tutup usia pada Minggu (15/2/2026). Simak profil Legenda Radio Yogyakarta, jasanya di dunia komunikasi, hingga jadwal pemakamannya.
Yogyakarta – Suara merdu yang selama puluhan tahun menemani ruang dengar masyarakat Yogyakarta kini telah sunyi.
Kabar duka menyelimuti dunia media dan pendidikan komunikasi setelah Lusy Laksita tutup usia pada Minggu malam (15/2/2026).
Sosok yang dikenal sebagai “Mama Lusy” ini mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Panti Rapih pada pukul 23.15 WIB dalam usia 58 tahun.
Kepergian perempuan bernama lengkap Lucia Saddewi Dwi Intani ini menjadi kehilangan besar bagi dunia penyiaran yang telah ia besarkan.
Lusy bukan sekadar penyiar; ia adalah simbol profesionalisme dan disiplin yang menjadi panutan bagi generasi muda di industri kreatif.
Dari Udara ke Hati Pendengar
Lahir pada 23 Februari 1967, perjalanan Lusy di dunia penyiaran dimulai dari ketidaksengajaan yang berujung pada cinta mendalam. Bermula dari tugas sekolah untuk mewawancarai penyiar di Geronimo FM, Lusy jatuh cinta pada cara radio menciptakan kedekatan emosional melalui suara.
Pada 1987, ia resmi bergabung dengan Geronimo FM dan memulai karier yang kemudian membawanya menjadi salah satu penyiar paling berpengaruh di Kota Pelajar.
Bagi Lusy, radio adalah “theater of mind” atau panggung pikiran. Ia selalu menekankan bahwa seorang penyiar harus mampu menciptakan imajinasi bagi pendengarnya.
Kedisiplinannya tak perlu diragukan; ia terbiasa bangun pukul 03.00 pagi demi memastikan pemancar radio menyala tepat waktu.
Komitmen inilah yang membuatnya bertahan selama lebih dari tiga dekade, berpindah dari satu frekuensi ke frekuensi lain, hingga merambah ke dunia televisi di TVRI Yogyakarta dan Jogja TV.
Menjadi Pendidik dan Pembentuk Karakter
Meski cita-cita masa kecilnya menjadi guru sekolah tidak terwujud secara formal, Lusy menemukan jalan pedang sebagai pendidik melalui lembaga Lusy Laksita Partner In Comm. Sejak didirikan pada 2007, lembaga ini telah membantu ribuan orang—mulai dari dokter, pengusaha, hingga anak-anak—untuk menguasai seni berbicara di depan umum (public speaking).
Bagi almarhumah, berbicara bukan sekadar mengeluarkan suara, melainkan cerminan kepribadian. “Masalah belajar siaran bisa dipelajari, tapi kalau komitmen itu urusan pribadi,” begitulah salah satu kutipan terkenalnya. Ia percaya bahwa kemampuan berkomunikasi adalah kunci kesuksesan di segala profesi. Warisan ilmu inilah yang kini menjadi kenangan paling berharga bagi siapa saja yang pernah berada di ruang kelasnya.
Penghormatan Terakhir dan Jadwal Pemakaman
Berdasarkan keterangan resmi pihak keluarga, saat ini jenazah disemayamkan di Rumah Duka RS Panti Rapih. Kepergian Lusy meninggalkan duka mendalam bagi saudara kandungnya, Maria Regina Dwi Ediputranti, Lucas Sasongko Triyoga, Paulus Unggul Indrio Wibowo, dan Yuliana Rahayu.
Rangkaian upacara penghormatan terakhir bagi almarhumah telah dijadwalkan sebagai berikut:
- Misa Requiem: Senin, 16 Februari 2026, pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo C. Aria Prabantara SJ (Romo Tito).
- Ibadat Pelepasan Jenazah: Selasa, 17 Februari 2026, pukul 10.00 WIB.
- Pemakaman: Selasa, 17 Februari 2026, pukul 13.00 WIB di Makam Gunung Tambalan, Bantul.
Lusy Laksita tutup usia dengan prinsip hidup yang ia pegang teguh hingga akhir: menikmati dan mensyukuri setiap langkah kehidupan.
Meski impiannya memiliki stasiun radio sendiri belum sempat terwujud secara fisik, namun “frekuensi” kebaikan dan ilmunya dipastikan akan terus mengudara di hati masyarakat Yogyakarta.







