Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE

- Publisher

Selasa, 25 November 2025 - 21:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital menerima audiensi perwakilan Cloudflare secara daring. - foto tangkapan layar web Komdigi

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital menerima audiensi perwakilan Cloudflare secara daring. - foto tangkapan layar web Komdigi

Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare adalah soal kepatuhan terhadap PSE. Cloudflare tunjukkan itikad baik untuk daftar PSE dan siap bantu moderasi konten negatif.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus bergerak aktif mengamankan ruang digital Indonesia. Langkah terbaru yang menarik perhatian publik adalah audiensi yang digelar dengan perwakilan Cloudflare, salah satu penyedia infrastruktur internet terbesar di dunia.

Pertemuan ini fokus membahas kepatuhan terhadap regulasi Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) Lingkup Privat. Isu utama dalam Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE adalah kewajiban pendaftaran yang berlaku bagi semua entitas asing.

Dialog konstruktif antara pemerintah dan raksasa teknologi ini menunjukkan bahwa Komdigi tidak serta merta langsung menjatuhkan sanksi, melainkan tetap mengedepankan komunikasi yang baik.

Dirjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, menegaskan bahwa proses ini adalah bagian dari upaya memastikan semua perusahaan global yang beroperasi di Indonesia mematuhi hukum yang berlaku.

Pertemuan ini berlangsung secara daring pada Selasa, 25 November 2025, sebagai tindak lanjut dari surat pemberitahuan resmi.

Alexander Sabar menekankan bahwa pertemuan seperti ini merupakan kunci dalam penegakan hukum yang profesional.

“Pertemuan ini menunjukkan bahwa dialog tetap kami kedepankan untuk memastikan kepatuhan berjalan baik,” ujar Dirjen Alexander.

Fokus utama dari Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE adalah menjembatani pemahaman antara regulasi nasional dan operasional perusahaan multinasional tersebut.

Komitmen Cloudflare Daftar PSE dan Moderasi Konten

Cloudflare diwakili oleh Carly Ramsey, Head of Public Policy APAC, dan Smrithi Ramesh, Lead for Government Outreach APAC. Mereka membahas dua agenda penting: pemenuhan kewajiban administrasi pendaftaran PSE sesuai Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2020 dan penguatan kerja sama untuk moderasi konten negatif. Dua agenda ini adalah kunci dari Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE yang memiliki dampak besar bagi ekosistem digital.

Terkait desakan agar Cloudflare daftar PSE, perusahaan menunjukkan sikap kooperatif yang sangat positif. Mereka menyampaikan itikad baik untuk mempelajari secara mendalam ketentuan pendaftaran yang berlaku di Indonesia. Sikap ini sangat diapresiasi oleh Komdigi, mengingat status Cloudflare sebagai pemain kunci yang menyediakan layanan keamanan siber dan performa web bagi jutaan website.

Selain masalah pendaftaran, Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE juga mencatat komitmen perusahaan dalam mendukung keamanan ruang digital. Cloudflare menyatakan kesiapan mereka untuk menyediakan kanal pelaporan khusus bagi Komdigi. Kanal ini akan memudahkan pemerintah dalam melakukan permintaan penghapusan konten yang terbukti melanggar hukum atau mengandung unsur digital negatif.

Baca Juga :  Persib Bandung Siap Kunci Tiket 16 Besar ACL 2: Cek Syaratnya

Dirjen Alexander Sabar menjelaskan bahwa penyediaan kanal pelaporan ini adalah bentuk dukungan konkrit dari Cloudflare. Hal ini penting mengingat prioritas pemerintah saat ini adalah menjaga ruang digital tetap aman dari berbagai ancaman, mulai dari penyebaran hoaks, pornografi, hingga aktivitas perjudian online. Poin ini menjadi highlight penting dari Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE.

Meskipun menunjukkan sikap kooperatif, Cloudflare juga memberikan klarifikasi mengenai batasan peran mereka. Mereka menjelaskan bahwa sebagai penyedia infrastruktur, mereka tidak melakukan kurasi konten secara langsung. Komdigi menghargai penjelasan teknis tersebut. Namun, terlepas dari peran tersebut, kewajiban untuk memenuhi Cloudflare daftar PSE tetap berlaku.

Aturan PSE Komdigi Wajib Bagi Perusahaan Asing

Pemerintah melalui Komdigi menegaskan kembali bahwa proses dialog yang terjadi tidak serta merta mengubah kewajiban administratif. Kepatuhan terhadap PM Kominfo No. 5/2020 adalah bagian integral dari operasi bisnis di Indonesia. Oleh karena itu, Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE adalah sinyal bahwa pendaftaran harus segera dipenuhi sesuai mekanisme yang berlaku.

“Kepatuhan terhadap kewajiban pendaftaran merupakan bagian penting dari upaya menjaga kedaulatan digital dan memastikan seluruh layanan yang beroperasi di Indonesia tunduk pada aturan yang sama,” ujar Alexander Sabar.

Ketegasan Komdigi ini bertujuan untuk menciptakan level playing field yang adil antara PSE lokal dan PSE asing. Hasil ini membuktikan bahwa Indonesia serius dalam menata tata kelola internetnya.

Sebagai salah satu PSE Lingkup Privat yang telah menerima pemberitahuan resmi, Cloudflare daftar PSE menjadi contoh penting bagi perusahaan global lainnya. Cloudflare melayani banyak sekali pengguna di Indonesia, dan layanan mereka sangat vital. Oleh karena itu, kepastian status hukum mereka sangat penting untuk menghindari potensi gangguan layanan di masa depan.

Baca Juga :  Kenapa Radiodays Asia 2025 Pilih Jakarta? Ini Alasannya

Komdigi meyakinkan bahwa seluruh proses pengawasan yang dilakukan terhadap Cloudflare daftar PSE dan PSE lainnya dilaksanakan secara transparan, profesional, dan proporsional. Pemerintah memandang bahwa kerja sama yang saling menghormati adalah fondasi utama untuk menjaga keamanan ekosistem digital Indonesia sambil memastikan perusahaan global memahami dan menyesuaikan diri dengan ketentuan nasional yang sah.

Pemerintah Indonesia tidak ingin mengganggu layanan yang menjadi kebutuhan masyarakat, namun kedaulatan digital harus tetap diutamakan. Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE diharapkan dapat mempercepat proses registrasi tersebut sebelum tenggat waktu yang ditetapkan. Jika tidak, sanksi administrasi hingga penindakan keras akan diterapkan.

Implikasi Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE

Bagi pengguna internet di Indonesia, Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE membawa dampak positif. Adanya kanal pelaporan khusus untuk moderasi konten akan membantu pemerintah memberantas konten digital negatif lebih cepat. Hal ini berarti ruang internet akan menjadi lingkungan yang lebih bersih dan aman dari scam, hoaks, atau materi ilegal lainnya.

Selain itu, dengan patuhnya Cloudflare daftar PSE, terdapat kepastian hukum yang lebih kuat bagi para pelaku usaha di Indonesia. Banyak perusahaan dan startup lokal yang mengandalkan infrastruktur Cloudflare untuk meningkatkan keamanan dan kecepatan situs mereka. Kepastian hukum ini mengurangi risiko pemblokiran mendadak yang bisa melumpuhkan aktivitas bisnis digital.

Dirjen Sabar menegaskan Komdigi akan terus memonitor perkembangan selanjutnya. “Kementerian Komdigi akan terus memantau ketercapaian kepatuhan Cloudflare dan PSE Lingkup Privat lainnya, serta menindaklanjuti setiap PSE Lingkup Privat yang belum memenuhi ketentuan sesuai mekanisme yang berlaku,” tegasnya. Ini menjadi penutup yang menggarisbawahi bahwa pengawasan akan terus berlanjut.

Masyarakat dan pelaku industri kini menanti tindak lanjut dari Hasil Pertemuan Komdigi dan Cloudflare soal Aturan PSE. Apakah Cloudflare akan segera menyelesaikan proses pendaftaran mereka di Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana lanskap regulasi digital dan hubungan antara regulator dengan raksasa teknologi global akan berjalan di masa depan.

Sumber Berita: Komdigi

Berita Terkait

FDR Summit Surabaya 2026 Bahas Transformasi Radio di Era Digital
Donny Fattah Meninggal Dunia: Legenda Bassist God Bless Tutup Usia
MacBook Neo Resmi Meluncur: Laptop Apple Paling Terjangkau!
FDR Summit Surabaya 2026: Kolaborasi dan Networking Radio
Link Live Streaming MotoGP Thailand 2026 dan Jadwal Balap
Konser Dewa 19 di Kuala Lumpur 2026: Tyo Nugros Ikut Serta
Lusy Laksita Tutup Usia: ‘Mama Lusy’ Legenda Radio Yogyakarta Yang Tak Lelah Berbagi Ilmu
Nomor Anggota FDR Indonesia Update Januari 2026

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 11:35 WIB

FDR Summit Surabaya 2026 Bahas Transformasi Radio di Era Digital

Sabtu, 7 Maret 2026 - 14:53 WIB

Donny Fattah Meninggal Dunia: Legenda Bassist God Bless Tutup Usia

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:46 WIB

MacBook Neo Resmi Meluncur: Laptop Apple Paling Terjangkau!

Sabtu, 28 Februari 2026 - 13:07 WIB

Link Live Streaming MotoGP Thailand 2026 dan Jadwal Balap

Minggu, 22 Februari 2026 - 21:50 WIB

Konser Dewa 19 di Kuala Lumpur 2026: Tyo Nugros Ikut Serta

Berita Terbaru

Radio belum hilang di era digital. Kedekatan penyiar, kemudahan akses, dan kejutan lagu membuat banyak orang masih setia mendengarkannya.

Opini

3 Alasan Orang Masih Mendengarkan Radio di Era Digital

Kamis, 5 Mar 2026 - 16:35 WIB

Pada masa awal siaran, Suara Surabaya tidak langsung menggunakan format berita. Radio ini sempat memutar berbagai jenis musik seperti musik klasik dan jazz.

foto : Istimewa

Profil

Suara Surabaya FM 100 dari 1983 hingga Kini

Rabu, 4 Mar 2026 - 09:45 WIB