Radio dan Hak Cipta : Tanpa Lagu, Apakah Radio Masih Layak Didengar?

- Publisher

Senin, 4 Agustus 2025 - 09:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Radio dan Hak Cipta : Tanpa Lagu, Apakah Radio Masih Layak Didengar?

Radio dan Hak Cipta : Tanpa Lagu, Apakah Radio Masih Layak Didengar?

Radio dan hak cipta lagu kini jadi dua sisi mata uang yang saling menekan. Di satu sisi, radio tak bisa lepas dari musik sebagai ruh utama siaran. Di sisi lain, urusan hak cipta lagu kian pelik, memaksa radio berhadapan dengan risiko hukum, tagihan royalti, hingga potensi gugatan dari pencipta lagu.

Pertanyaannya kini: apakah radio masih bisa hidup tanpa lagu?

Radio dan Hak Cipta: Dikepung Regulasi, Ruang Gerak Radio Kian Sempit

Dulu, radio dikenal sebagai “teman setia malam hari”, memutar lagu-lagu cinta yang menyentuh, membawa pendengarnya larut dalam suasana. Tapi sejak Undang-Undang Hak Cipta semakin ditegakkan, dan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) aktif menarik royalti, dunia radio mulai gelisah.

Hak memainkan lagu kini bukan sekadar perkara niat baik atau promosi, tapi menyangkut kewajiban bayar yang tak sedikit. Bahkan stasiun radio lokal yang pas-pasan pun tak luput dari surat penagihan.

Akibatnya, banyak radio mulai “diet lagu” atau beralih pada format lain: obrolan, podcast, atau bahkan siaran berita non-stop.

Gawat! Radio Kehilangan Daya Magnet Tanpa Musik

Namun, patut diakui, musik bukan sekadar pelengkap dalam siaran radio. Lagu adalah nyawa. Tanpa musik, radio bisa kehilangan daya magnetnya, terutama bagi generasi yang masih menikmati sensasi mendengar lagu sambil berkegiatan.

Baca Juga :  WAMI Tegaskan Tarif 2 Persen Untuk Royalti Lagu di Acara Pernikahan

Bahkan, sebagian besar pendengar memilih frekuensi bukan karena penyiar, melainkan karena playlist-nya.

Jadi, saat radio mulai mengurangi lagu demi menghindari jerat hukum hak cipta, mereka juga perlahan kehilangan pendengarnya. Sebuah dilema yang tak mudah dijawab.

Inovasi atau Mati? Saatnya Radio Bertransformasi

Meski begitu, radio tak boleh menyerah. Banyak jalan menuju transformasi. Radio bisa menjalin kerja sama legal dengan musisi independen atau label yang memberi lisensi murah, bahkan gratis, demi eksposur.

Alternatif lain adalah memainkan lagu-lagu dari domain publik atau karya dengan lisensi Creative Commons. Bahkan, sejumlah radio kini menciptakan “musik orisinal sendiri” untuk menjaga nuansa siaran tetap hidup tanpa harus pusing soal royalti.

Memang tak mudah. Tapi kreativitas selalu jadi kunci bertahan dalam dunia media yang terus berubah.

Wajib Tahu: Radio Perlu Kebijakan Baru yang Adil

Yang perlu disorot, bukan hanya kesiapan radio, tapi juga urgensi kebijakan hak cipta yang lebih adil.

Baca Juga :  Cara Meyakinkan Brand Besar Masuk Radio Daerah di Tahun 2026

Apakah wajar radio harus membayar mahal untuk memutar lagu yang justru memperluas jangkauan sang musisi? Bukankah simbiosis mutualisme masih mungkin terjadi?

LMKN dan pemerintah semestinya membuka ruang dialog yang lebih inklusif. Radio bukan musuh musisi. Justru radio telah menjadi etalase penting bagi banyak karya musik untuk dikenal publik.

Alih-alih memberatkan radio dengan kewajiban royalti yang kaku, semestinya ada model distribusi hak yang fleksibel, khusus untuk pelaku media kecil dan daerah.

Bisa Hidup, Tapi Tidak Seperti Dulu Lagi

Jadi, apakah radio bisa hidup tanpa lagu?

Jawabannya: bisa, tapi tidak dengan cara yang sama. Radio akan berubah. Format akan bergeser. Audiens akan disaring ulang.

Namun, jika ingin tetap menjadi media yang relevan dan dicintai, radio perlu inovasi cerdas serta kebijakan hukum yang berpihak pada ekosistem kreatif yang berimbang.

Karena pada akhirnya, radio dan lagu sama-sama butuh panggung dan selayaknya mereka tidak saling menjatuhkan, melainkan saling menghidupi.

Penulis : Tony - Mantan Penyiar

Editor : Widi

Berita Terkait

Optimisme Industri Radio 2026: Nafas Terakhir dan Kekuatan Utama Industri Radio
Cara Meyakinkan Brand Besar Masuk Radio Daerah di Tahun 2026
Dilema Visual Radio: Inovasi Digital atau Keputusasaan Industri?
The Harliantara Model: Mengapa “Jiwa Manusia” Adalah Amunisi Terakhir Radio Melawan Algoritma
Bongkar Strategi Siaran Tanpa Musik di Radio: Rahasia Sukses yang Tak Banyak Diketahui
Radio Kembali Naik Daun Berkat AI
Kondisi Pasar Iklan 2025: Proyeksi dan Analisis Terbaru
Radio Analog Tetap Jadi Pilihan di Tengah Ketimpangan Digital

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 10:10 WIB

Optimisme Industri Radio 2026: Nafas Terakhir dan Kekuatan Utama Industri Radio

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:40 WIB

Cara Meyakinkan Brand Besar Masuk Radio Daerah di Tahun 2026

Jumat, 2 Januari 2026 - 00:37 WIB

Dilema Visual Radio: Inovasi Digital atau Keputusasaan Industri?

Rabu, 31 Desember 2025 - 14:05 WIB

The Harliantara Model: Mengapa “Jiwa Manusia” Adalah Amunisi Terakhir Radio Melawan Algoritma

Senin, 4 Agustus 2025 - 09:46 WIB

Radio dan Hak Cipta : Tanpa Lagu, Apakah Radio Masih Layak Didengar?

Berita Terbaru

Nomor Anggota FDR Indonesia Update Januari 2026

News

Nomor Anggota FDR Indonesia Update Januari 2026

Sabtu, 14 Feb 2026 - 13:51 WIB