Pemimpin rendah hati di era media yang bising menjadi sorotan penting di tengah derasnya arus informasi. Kita hidup dalam zaman ketika timeline media sosial dipenuhi konten viral, headline berita mengejar sensasi, dan tokoh publik berlomba tampil penuh gaya. Namun, apakah benar suara paling keras selalu yang paling didengar?
Kisah John L. Hennessy, mantan Presiden Stanford University sekaligus Godfather of Silicon Valley, justru menunjukkan hal sebaliknya. Di tengah ambisi besar dan kompetisi keras, ia hadir sebagai pemimpin yang membangun pengaruh bukan dengan pencitraan, melainkan dengan kesederhanaan, keaslian, dan empati.

Kesederhanaan yang Menjadi Kekuatan
Hennessy awalnya hanya bercita-cita menjadi profesor. Namun perjalanan hidup membawanya memimpin universitas bergengsi, duduk di dewan perusahaan teknologi raksasa, dan memainkan peran penting dalam ekosistem Silicon Valley. Meski demikian, ia tetap rendah hati.
Sebagai presiden universitas, ia menghabiskan banyak waktu untuk fundraising. Ia tahu dirinya bukan pusat perhatian, melainkan bagian dari sebuah ekosistem. Kesadaran ini membuatnya mampu menghargai setiap orang—dari miliarder donor hingga staf kebersihan kampus.
Di dunia media saat ini, pelajaran ini jelas relevan. Media tidak harus selalu menempatkan dirinya sebagai “bintang utama”. Justru ketika media menyadari perannya sebagai penghubung, sebagai bagian dari ekosistem masyarakat, di situlah ia menjadi lebih bermakna.
Keaslian yang Melahirkan Kepercayaan
Hennessy percaya, pemimpin tidak boleh memberi harapan palsu. Kejujuran, meski pahit, adalah bentuk tanggung jawab.
Begitu pula media. Audiens modern semakin kritis; mereka tahu mana konten yang tulus dan mana yang hanya mengejar klik. Media yang autentik, yang berani menyajikan fakta dan menjaga integritas, akan selalu lebih dipercaya dibanding yang sekadar “ribut” di permukaan.
Empati yang Membuka Jalan
Empati Hennessy terlihat jelas dalam kebijakannya memperjuangkan akses pendidikan yang lebih inklusif. Ia tidak hanya melihat nilai akademis, tetapi juga perjalanan hidup seseorang. Hasilnya: program kuliah gratis bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Media pun bisa belajar hal yang sama. Empati dalam media berarti melihat audiens bukan sekadar angka rating atau trafik, tetapi sebagai manusia dengan cerita dan aspirasi. Ketika media berani mengangkat isu yang menyentuh hati masyarakat—entah soal keadilan sosial, kesehatan mental, atau perjuangan komunitas kecil—ia akan lebih relevan dan berharga.
Pelajaran untuk Media di Era Digital
Dalam dunia yang bising, Hennessy memberi pengingat penting: kepercayaan adalah mata uang utama. Sama seperti kepemimpinan, media yang rendah hati, jujur, dan empatik akan lebih lama dipercaya.
Pada akhirnya, keberhasilan media bukan hanya soal seberapa viral kontennya, tetapi seberapa dalam ia menyentuh hati audiens. Dan di tengah kebisingan dunia digital, suara yang tuluslah yang akan bertahan paling lama.
Kesederhanaan, keaslian, dan empati, tiga hal yang terlihat sederhana, namun justru menjadi strategi paling kuat untuk membangun media yang dipercaya dan dicintai.







