Kartu Request Radio: Romantika yang Terlupa

- Publisher

Sabtu, 21 Juni 2025 - 06:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kartu Request Radio: Romantika yang Terlupa

Kartu Request Radio: Romantika yang Terlupa

Kartu Request Radio: Romantika yang Terlupa — Di tengah gegap gempita era digital dan serbuan layanan streaming, satu tradisi hangat dari masa lalu perlahan tenggelam: kartu request radio.

Bagi generasi 80-an hingga awal 2000-an, mengirim kartu pilihan lagu ke stasiun radio bukan sekadar bentuk komunikasi, tetapi bagian dari gaya hidup dan ruang ekspresi emosional.

Masa Keemasan Kartu Request Radio di Era Analog

Sebelum kehadiran WhatsApp, email, atau kolom komentar media sosial, kartu request adalah jembatan utama antara pendengar dan penyiar radio. Setiap kartu yang dikirim tak hanya berisi permintaan lagu, tapi juga harapan, cerita cinta, salam untuk sahabat, bahkan curahan hati pendengar.

Popularitas sejak Tahun 70-an

Tradisi ini populer sejak dekade 1970-an, ketika radio menjadi media paling merakyat. Di masa itu, banyak rumah belum memiliki televisi, apalagi ponsel. Radio adalah teman setia, dan kartu request menjadi simbol hubungan dua arah antara media dan audiensnya.

Kartu-kartu ini dikirim lewat kantor pos, ditulis tangan dengan cermat, dan sering kali dihiasi gambar, stiker, atau lukisan. Ada yang mengirim satu-dua kartu per minggu, ada pula yang rutin menulis setiap hari, berharap suaranya akan dibacakan penyiar kesayangan.

Antara Permintaan Lagu dan Harapan Hati

Salah satu daya tarik kartu request adalah konten emosional yang menyertainya. Pendengar tak hanya meminta lagu, tetapi juga menitipkan pesan yang menggambarkan suasana hati.

Baca Juga :  30 Nama Anak Dengan Unsur Radio

“Saya ingat menerima kartu dari pendengar yang sedang rindu anaknya di rantau. Ia minta diputarkan lagu Iwan Fals,” kenang Aldi, mantan penyiar radio swasta tahun 1990-an.

Banyak kartu disimpan penyiar sebagai kenangan. Bahkan beberapa stasiun radio menjadikannya koleksi dokumenter yang merekam dinamika sosial masyarakat masa itu.

Kartu Request: Ruang Demokrasi Mini

Di balik kesederhanaannya, kartu pendengar adalah bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam media. Pendengar tak hanya menyimak, tetapi juga ikut membentuk isi siaran.

Penyiar sebagai Sahabat, Bukan Sekadar Narator

Melalui kartu-kartu ini, pendengar merasa dekat dengan penyiar. Bukan hanya karena suaranya yang ramah, tapi karena keterlibatan emosional yang tumbuh secara alami. Penyiar membaca kartu, menanggapi isi pesan, bahkan menyebut nama pengirimnya satu per satu.

Hal ini menciptakan nuansa personal yang nyaris tak bisa ditandingi oleh media digital saat ini, yang cenderung cepat, padat, namun dangkal.

Terpinggirkan oleh Teknologi

Masuknya teknologi SMS dan kemudian media sosial perlahan menggantikan peran kartu request. Sekitar awal 2000-an, radio mulai membuka jalur interaksi via pesan singkat. Permintaan lagu bisa dikirim dalam hitungan detik.

Baca Juga :  Alasan Penyiar Radio Tidak Pakai Nama Asli dalam Siaran

Dari Tulisan Tangan ke Emoji

Interaksi via kartu yang penuh kesungguhan berubah menjadi singkat dan impersonal. Meskipun lebih efisien, transisi ini menandai hilangnya nilai sentimental yang dulu kuat melekat pada kartu request.

Nilai Sejarah dan Relevansi Saat Ini

Kini, kartu-kartu itu menjadi arsip berharga. Beberapa radio menyimpannya dalam bentuk digital sebagai bagian dari warisan budaya siaran. Kartu request adalah jejak budaya komunikasi yang menggambarkan zaman ketika hubungan media dan pendengar dibangun dengan kesabaran, ketulusan, dan rasa hormat.

Inspirasi untuk Generasi Muda

Mengenang kartu request bukan semata bernostalgia. Tradisi ini mengajarkan nilai penting dalam berkomunikasi: memberi waktu, perhatian, dan rasa personal yang dalam. Nilai-nilai ini bisa diadaptasi dalam praktik komunikasi digital hari ini—baik oleh penyiar radio daring, podcaster, maupun kreator konten.

Tradisi yang Patut Dihidupkan Kembali?

Meski zaman telah berubah, semangat dari kartu request tak harus punah. Beberapa stasiun radio lokal kini mencoba menghadirkan kembali program interaktif yang meniru nuansa personal masa lalu, bahkan dengan format digital seperti “kartu suara” atau “e-request”.

Kartu request mungkin tak lagi dikirim lewat pos, tapi makna di baliknya—koneksi yang tulus antara penyiar dan pendengar—tetap relevan dan dirindukan.

Sumber Berita: berbagai sumber

Berita Terkait

Tren Unik Pendengar: Mengapa Nama Samaran Kirim Lagu di Radio Tetap Bertahan?
Flashback: Tangga Lagu Billboard Januari 1990 Paling Populer
Rahasia Dapur Radio: Apa Itu Music Director dan Cara Memilih Lagu Hits
Pentingnya Data: Mengapa Radio Harus Punya Aplikasi Streaming Sendiri
Bahasa Prokem atau Bahasa Gaul Khas Radio dari Era 80-an ke Gen Z
Update 2025! 25 Soal dan Jawaban Dunia Radio untuk Calon Praktisi
Jadi Penyiar Radio, Perlu Kuliah Komunikasi?
Profesi di Balik Layar Radio: Inilah “Mesin Utama” yang Menghidupkan Suara di Radio Anda

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 08:51 WIB

Tren Unik Pendengar: Mengapa Nama Samaran Kirim Lagu di Radio Tetap Bertahan?

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:26 WIB

Flashback: Tangga Lagu Billboard Januari 1990 Paling Populer

Kamis, 15 Januari 2026 - 00:31 WIB

Rahasia Dapur Radio: Apa Itu Music Director dan Cara Memilih Lagu Hits

Senin, 12 Januari 2026 - 02:00 WIB

Pentingnya Data: Mengapa Radio Harus Punya Aplikasi Streaming Sendiri

Senin, 12 Januari 2026 - 00:11 WIB

Bahasa Prokem atau Bahasa Gaul Khas Radio dari Era 80-an ke Gen Z

Berita Terbaru

Nomor Anggota FDR Indonesia Update Januari 2026

News

Nomor Anggota FDR Indonesia Update Januari 2026

Sabtu, 14 Feb 2026 - 13:51 WIB