Kartu Request Radio: Romantika yang Terlupa — Di tengah gegap gempita era digital dan serbuan layanan streaming, satu tradisi hangat dari masa lalu perlahan tenggelam: kartu request radio.
Bagi generasi 80-an hingga awal 2000-an, mengirim kartu pilihan lagu ke stasiun radio bukan sekadar bentuk komunikasi, tetapi bagian dari gaya hidup dan ruang ekspresi emosional.
Masa Keemasan Kartu Request Radio di Era Analog
Sebelum kehadiran WhatsApp, email, atau kolom komentar media sosial, kartu request adalah jembatan utama antara pendengar dan penyiar radio. Setiap kartu yang dikirim tak hanya berisi permintaan lagu, tapi juga harapan, cerita cinta, salam untuk sahabat, bahkan curahan hati pendengar.
Popularitas sejak Tahun 70-an
Tradisi ini populer sejak dekade 1970-an, ketika radio menjadi media paling merakyat. Di masa itu, banyak rumah belum memiliki televisi, apalagi ponsel. Radio adalah teman setia, dan kartu request menjadi simbol hubungan dua arah antara media dan audiensnya.
Kartu-kartu ini dikirim lewat kantor pos, ditulis tangan dengan cermat, dan sering kali dihiasi gambar, stiker, atau lukisan. Ada yang mengirim satu-dua kartu per minggu, ada pula yang rutin menulis setiap hari, berharap suaranya akan dibacakan penyiar kesayangan.
Antara Permintaan Lagu dan Harapan Hati
Salah satu daya tarik kartu request adalah konten emosional yang menyertainya. Pendengar tak hanya meminta lagu, tetapi juga menitipkan pesan yang menggambarkan suasana hati.
“Saya ingat menerima kartu dari pendengar yang sedang rindu anaknya di rantau. Ia minta diputarkan lagu Iwan Fals,” kenang Aldi, mantan penyiar radio swasta tahun 1990-an.
Banyak kartu disimpan penyiar sebagai kenangan. Bahkan beberapa stasiun radio menjadikannya koleksi dokumenter yang merekam dinamika sosial masyarakat masa itu.
Kartu Request: Ruang Demokrasi Mini
Di balik kesederhanaannya, kartu pendengar adalah bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam media. Pendengar tak hanya menyimak, tetapi juga ikut membentuk isi siaran.
Penyiar sebagai Sahabat, Bukan Sekadar Narator
Melalui kartu-kartu ini, pendengar merasa dekat dengan penyiar. Bukan hanya karena suaranya yang ramah, tapi karena keterlibatan emosional yang tumbuh secara alami. Penyiar membaca kartu, menanggapi isi pesan, bahkan menyebut nama pengirimnya satu per satu.
Hal ini menciptakan nuansa personal yang nyaris tak bisa ditandingi oleh media digital saat ini, yang cenderung cepat, padat, namun dangkal.
Terpinggirkan oleh Teknologi
Masuknya teknologi SMS dan kemudian media sosial perlahan menggantikan peran kartu request. Sekitar awal 2000-an, radio mulai membuka jalur interaksi via pesan singkat. Permintaan lagu bisa dikirim dalam hitungan detik.
Dari Tulisan Tangan ke Emoji
Interaksi via kartu yang penuh kesungguhan berubah menjadi singkat dan impersonal. Meskipun lebih efisien, transisi ini menandai hilangnya nilai sentimental yang dulu kuat melekat pada kartu request.
Nilai Sejarah dan Relevansi Saat Ini
Kini, kartu-kartu itu menjadi arsip berharga. Beberapa radio menyimpannya dalam bentuk digital sebagai bagian dari warisan budaya siaran. Kartu request adalah jejak budaya komunikasi yang menggambarkan zaman ketika hubungan media dan pendengar dibangun dengan kesabaran, ketulusan, dan rasa hormat.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Mengenang kartu request bukan semata bernostalgia. Tradisi ini mengajarkan nilai penting dalam berkomunikasi: memberi waktu, perhatian, dan rasa personal yang dalam. Nilai-nilai ini bisa diadaptasi dalam praktik komunikasi digital hari ini—baik oleh penyiar radio daring, podcaster, maupun kreator konten.
Tradisi yang Patut Dihidupkan Kembali?
Meski zaman telah berubah, semangat dari kartu request tak harus punah. Beberapa stasiun radio lokal kini mencoba menghadirkan kembali program interaktif yang meniru nuansa personal masa lalu, bahkan dengan format digital seperti “kartu suara” atau “e-request”.
Kartu request mungkin tak lagi dikirim lewat pos, tapi makna di baliknya—koneksi yang tulus antara penyiar dan pendengar—tetap relevan dan dirindukan.
Sumber Berita: berbagai sumber







