KOMDIGI Gelar FGD Bahas Ekosistem Media dalam rangka merumuskan kebijakan strategis yang menjawab tantangan media nasional di era digital.
Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 17 Juni 2025, di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, dan menghadirkan sejumlah pakar, pelaku industri, serta pemangku kepentingan. Fokus utama diskusi adalah menyusun peta jalan kebijakan media yang adaptif, sehat, dan berkelanjutan.
Tanggapan Terhadap Tantangan Media Era Digital
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah drastis cara media beroperasi dan menjangkau audiens.
Di satu sisi, kemajuan ini memperluas akses dan distribusi informasi. Namun di sisi lain, media nasional menghadapi disrupsi yang melemahkan posisi mereka terhadap dominasi platform digital global.
FGD ini merupakan inisiatif Direktorat Ekosistem Media, Ditjen Komunikasi Publik dan Media KOMDIGI, sebagai bentuk komitmen untuk menyusun kebijakan berbasis data, prinsip demokrasi, serta nilai-nilai Media BEJO’S: Bertanggung Jawab, Edukatif, Jujur, Objektif, dan Sehat Industri.
KOMDIGI Gelar FGD Bahas Ekosistem Media, mencakup :
✅ Aspek struktural: Revisi UU Penyiaran agar relevan di era digital, penguatan Publisher Rights, dan penyesuaian regulasi platform digital.
✅ Aspek finansial: Diversifikasi pendapatan media, insentif investasi, dan dukungan fiskal untuk ekosistem media sehat.
✅ Aspek teknologi: Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), pengembangan algoritma nasional, dan peningkatan kompetensi SDM.
✅ Aspek kultural dan kearifan lokal: Literasi digital masyarakat, pelestarian budaya nasional melalui media, dan perlindungan kekayaan intelektual lokal.
Revisi Aturan Penyiaran dan Publisher Rights
Para peserta FGD sepakat bahwa regulasi media yang berlaku perlu disesuaikan dengan realitas digital saat ini.
Revisi UU Penyiaran menjadi urgensi agar distribusi konten digital memiliki kerangka hukum yang jelas. Selain itu, Publisher Rights harus diperkuat untuk memastikan media lokal memiliki hak atas konten mereka yang tersebar di berbagai platform.
Penguatan Model Ekonomi Media
Masalah finansial media turut menjadi sorotan utama. Banyak media lokal kesulitan bertahan karena ketergantungan terhadap iklan dan kurangnya insentif fiskal. Oleh karena itu, diskusi menghasilkan rekomendasi seperti:
- Insentif pajak bagi media yang memproduksi konten edukatif
- Dukungan dana inovasi media
- Diversifikasi sumber pendapatan melalui skema keanggotaan dan lisensi konten
Integrasi Teknologi dan Kompetensi SDM
Kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) harus dimanfaatkan secara strategis. FGD merekomendasikan pengembangan algoritma nasional yang berpihak pada konten lokal serta peningkatan pelatihan SDM media dalam bidang digital, AI, dan etika jurnalisme daring.
Literasi Digital dan Pelestarian Budaya Lokal
Tak kalah penting adalah dimensi kultural. Diskusi menekankan pentingnya memperkuat literasi digital masyarakat, agar publik mampu memilah informasi yang akurat di tengah maraknya disinformasi.
Selain itu, media perlu dilibatkan dalam pelestarian budaya dan perlindungan kekayaan intelektual lokal melalui narasi yang inklusif dan representatif.
FGD yang diselenggarakan KOMDIGI menjadi langkah penting dalam menyusun kebijakan yang relevan dan solutif. Melalui dialog terbuka dan kolaboratif, berbagai rekomendasi strategis dihasilkan untuk memperkuat posisi media nasional, baik dari sisi hukum, ekonomi, teknologi, maupun budaya.
Dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan dan kemandirian, hasil FGD ini diharapkan menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan media nasional yang mampu menjawab tantangan zaman dan tetap menjaga demokrasi sebagai nilai utama.







