Kisah balita kejang di pesawat Citilink rute Jakarta-Bengkulu berakhir selamat berkat pertolongan dokter spesialis anak di dalam kabin. Simak kronologinya.
JAKARTA, FDRINDONESIA.COM — Situasi mendebarkan sempat mewarnai kabin Citilink QG 990 rute Jakarta-Bengkulu ketika seorang balita kejang di pesawat Citilink tersebut. Insiden yang terjadi saat proses boarding.
Kejadian balita kejang di pesawat Citilink ini dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen maskapai. Beruntung, koordinasi cepat antara kru kabin dan tenaga medis yang menjadi penumpang membuat situasi yang mulanya tegang berangsur terkendali tanpa harus melakukan pembatalan penerbangan bagi keluarga tersebut.
Kronologi Dokter Selamatkan Balita Kejang di Pesawat Citilink: Aksi Penyelamatan di Atas Kabin
Peristiwa ini terjadi saat pesawat masih berada di landasan pacu, tepatnya ketika penumpang sedang masuk ke dalam kabin. Corporate Secretary & CSR Group Head PT Citilink Indonesia, Tashia Scholz, menjelaskan bahwa balita berusia 22 bulan tersebut mengalami serangan kejang yang tiba-tiba.
“Benar telah terjadi insiden seorang penumpang bayi (infant) berusia 22 bulan mengalami kejang pada saat proses boarding masih berlangsung dan pesawat masih berada di darat,” ujar Tashia Scholz dalam keterangan resminya kepada media, Minggu (1/2/2026).
Melihat kondisi darurat tersebut, kru pesawat langsung menjalankan protokol keselamatan. Secara kebetulan, seorang dokter spesialis anak yang juga penumpang di pesawat tersebut langsung menawarkan bantuan medis. Kolaborasi antara peralatan darurat maskapai dan keahlian sang dokter menjadi kunci utama stabilitas kondisi sang balita.
Prosedur Darurat dan Keselamatan Penerbangan
Dalam situasi medis darurat di udara atau saat boarding, maskapai memiliki kewajiban untuk memprioritaskan nyawa penumpang. Tashia menyebutkan bahwa kru yang bertugas bekerja bahu-membahu menyiapkan seluruh keperluan medis darurat yang tersedia di pesawat.
“Dalam kejadian ini, penumpang yang berprofesi dokter tersebut turut membantu dalam memberikan pertolongan pertama, bekerja sama dengan kru yang bertugas guna menyiapkan seluruh keperluan dalam kondisi darurat,” tambahnya.
Hal ini sejalan dengan aturan keselamatan penerbangan sipil yang tertuang dalam Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulations (CASR), di mana awak kabin wajib memiliki kompetensi penanganan medis dasar (First Aid) untuk situasi darurat seperti ini. Dampak dari penanganan yang tepat ini mencegah eskalasi kondisi medis yang lebih buruk bagi sang bayi.
Kondisi Stabil dan Keputusan Melanjutkan Perjalanan
Setelah mendapatkan penanganan intensif selama beberapa saat, kondisi balita tersebut dinyatakan membaik. Menariknya, meski sempat mengalami insiden medis yang cukup serius, pihak keluarga tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Bengkulu setelah mendapat “lampu hijau” dari dokter spesialis yang menangani.
Pihak Citilink memastikan bahwa keputusan untuk tetap terbang diambil setelah observasi medis yang ketat. “Berkat penanganan yang cepat dan tepat, dokter yang turut dalam penerbangan Citilink tersebut menyatakan bahwa kondisi bayi telah kembali stabil dan layak untuk melanjutkan penerbangan,” tutur Tashia.
Pesawat akhirnya lepas landas pada pukul 10.45 dan mendarat dengan selamat di Bengkulu pada pukul 11.50 waktu setempat. Pihak maskapai juga menegaskan bahwa seluruh dokumen perjalanan dan prosedur pemeriksaan kesehatan penumpang telah dipenuhi sesuai regulasi yang berlaku.
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi para orang tua yang membawa balita dalam penerbangan untuk selalu memastikan kondisi kesehatan anak dalam keadaan prima dan melaporkan kondisi medis khusus kepada petugas di meja pelaporan (check-in counter) sebelum terbang.







