Review Film 28 Years Later: The Bone Temple, Nia DaCosta Bawa Kengerian Baru

- Publisher

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Film ini memperkenalkan konflik ideologi antara sekte pimpinan Jimmy yang eksentrik dengan sains gila milik Dr. Ian Kelson di kuil tulang yang mengerikan. Credit: Courtesy of Sony Pictures

Film ini memperkenalkan konflik ideologi antara sekte pimpinan Jimmy yang eksentrik dengan sains gila milik Dr. Ian Kelson di kuil tulang yang mengerikan. Credit: Courtesy of Sony Pictures

  • Review Film 28 Years Later: The Bone Temple menyoroti keberanian sutradara Nia DaCosta dalam mengekspansi semesta infeksi garapan Danny Boyle dan Alex Garland.
  • Film ini memperkenalkan konflik ideologi antara sekte pimpinan Jimmy yang eksentrik dengan sains gila milik Dr. Ian Kelson di kuil tulang yang mengerikan.
  • Penampilan Jack O’Connell dan Ralph Fiennes mendapat pujian luas karena berhasil mengangkat genre horor zombie ke level sinematik yang lebih puitis namun tetap brutal.

JAKARTA, FDRINDONESIA.COM – Dunia perfilman kembali diguncang oleh ekspansi horor yang tidak biasa melalui review 28 Years Later: The Bone Temple.

Setelah puluhan tahun lalu Danny Boyle dan Alex Garland mendefinisikan ulang genre zombie lewat 28 Days Later, kini estafet tersebut diteruskan kepada Nia DaCosta.

Hasilnya? Sebuah mahakarya yang menolak tunduk pada kiasan-kiasan usang tentang mayat hidup.

Review 28 Years Later: The Bone Temple membuktikan bahwa sekuel ini bukan sekadar mengejar ketegangan, melainkan sebuah eksplorasi mendalam tentang kemanusiaan yang tersisa di tengah kegilaan global.

Jika film pertamanya berfokus pada pelarian di kota yang mati, DaCosta justru membawa penonton ke alam liar yang indah namun mematikan.

Di sini, individu yang terinfeksi bukan lagi sekadar monster tanpa otak yang berlari kencang. Beberapa di antaranya telah berevolusi menjadi “Alpha” yang cerdas dan kuat, sementara yang lain merayap lambat dalam penderitaan yang aneh.

Review Film 28 Years Later: Benturan Agama dan Sains di Kuil Tulang

Inti dari narasi The Bone Temple adalah misteri tentang sosok Jimmy, yang diperankan dengan sangat brilian oleh Jack O’Connell. Melanjutkan perkenalan singkatnya di prekuel, Jimmy kini muncul sebagai pemimpin sekte pemuja setan yang eksentrik. Dengan gaya rambut pirang ala Lancelot dan setelan velour tracksuit, ia memimpin pasukan pengikut yang semuanya bernama Jimmy.

Baca Juga :  STOP Cemas! Panduan Cepat Tahu Cara Mengetahui WhatsApp Disadap

“Karakter Jimmy ini adalah potret penguasa haus kekuasaan dengan ego yang sangat rapuh. Ia membangun agama baru dari trauma masa kecilnya, sebuah perversi dari ajaran ayahnya,” tulis sebuah catatan kritik dalam review 28 Years Later: The Bone Temple.

Konflik memuncak ketika kelompok Jimmy berpapasan dengan Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes). Kelson adalah seorang ilmuwan yang tampak gila, dengan kulit yang memerah akibat yodium dan rumah yang dikelilingi oleh sisa-sisa tulang manusia sebuah kuil tulang asli. Di sinilah naskah Alex Garland bermain dengan sangat cerdas: membenturkan fanatisme agama dengan dinginnya eksperimen sains di bentang alam pasca-apokaliptik.

Sentuhan Nia DaCosta dan Musik yang Menghantui

Nia DaCosta, yang sebelumnya dikenal lewat Little Woods dan Candyman, membawa identitas visual yang kuat ke dalam film ini. Ia tidak hanya menyajikan adegan gore yang memuaskan dahaga penggemar horor, tetapi juga momen-momen puitis yang tak terduga. Salah satu adegan yang paling banyak dibicarakan adalah sekuens tarian yang muncul secara mengejutkan di tengah ketegangan.

Keberhasilan atmosfer film ini juga tak lepas dari tangan dingin komposer Hildur Guðnadóttir. Skor musiknya yang terdiri dari orkestrasi erangan dan desahan manusia menciptakan rasa tidak nyaman yang konstan. Musik dalam The Bone Temple bukan sekadar latar, melainkan karakter itu sendiri yang menekankan ketakutan, amarah, hingga kebahagiaan yang ganjil.

Secara teknis, penggunaan kamera dalam film ini menangkap keindahan bintang-bintang dingin yang bersinar di atas penderitaan manusia, sebuah kontras yang menunjukkan bahwa alam semesta tidak peduli dengan kehancuran kita. Namun, melalui karakter Kelson, DaCosta mengingatkan bahwa “bertahan hidup saja tidak cukup.” Manusia tetap membutuhkan musik, percakapan, dan dansa, bahkan jika mereka harus membangun kuil dari tulang untuk mendapatkannya.

Baca Juga :  Mission Impossible The Final Reckoning Resmi Tayang Digital

Apresiasi Kritikus dan Dampak pada Genre Horor

Kehadiran The Bone Temple di tahun 2026, bersamaan dengan hits horor lainnya seperti Sinners, menandai era baru bagi genre ini. Horor kini lebih dari sekadar jumpscare. Ia menjadi medium untuk menggugat kebijakan moral dan etika sains. Sesuai dengan standar klasifikasi film internasional, film ini tetap mempertahankan rating dewasa karena kekerasan visualnya yang ekstrem, namun kedalaman emosionalnya mampu menarik penonton dari berbagai spektrum.

Jack O’Connell sekali lagi membuktikan dirinya sebagai aktor paling menonjol tahun ini. Chemistry-nya yang menegangkan dengan Ralph Fiennes menciptakan intensitas yang jarang ditemukan dalam film bertema zombie. Sementara itu, Erin Kellyman sebagai Jimmy Ink memberikan performa luar biasa sebagai gadis yang belajar menggunakan kekejaman sebagai strategi untuk bertahan hidup.

Sebagai bagian kedua dari trilogi, The Bone Temple tidak terburu-buru menutup semua teka-teki. Ada beberapa benang merah yang sengaja dibiarkan menggantung, menjanjikan babak terakhir yang diprediksi akan membuat penggemar 28 Days Later berteriak kegirangan.

Secara keseluruhan, review 28 Years Later: The Bone Temple menyimpulkan bahwa ini adalah film yang fenomenal. Ia membangun saga tanpa harus menjiplak pendahulunya. Sebagai film zombie, ia memberikan adegan kekerasan yang membuat perut mual, namun sebagai sebuah karya seni sinema, ia sangat sublim dan indah. DaCosta telah menciptakan film terbaiknya sejauh ini, sebuah karya horor yang akan terus diperbincangkan bertahun-tahun mendatang.

Sumber Berita: GENCILNEWS

Berita Terkait

Orang Tua Wajib Tahu, Jadwal Libur Sekolah Ramadan dan Lebaran 2026
Vokalis 3 Doors Down Meninggal Dunia Usai Lawan Kanker Ginjal
Radio Ekraf Siaran Bareng 29 Radio Bandung: Bangkitkan Ekosistem Kreatif Lokal
Profil Juke Band Rilis Single Berjudul “Cerita Kita”
Rumor Mauro Zijlstra Gabung Persija Jakarta Makin Kencang, Cek Detailnya
Radio Pensiunan Pabriknya Kebahagiaan: Cara Asyik Menikmati Masa Tua
Film Esok Tanpa Ibu: Sinopsis, Pemain, dan Jadwal Tayang
Kisah Dokter Selamatkan Balita Kejang di Pesawat Citilink

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 17:31 WIB

Orang Tua Wajib Tahu, Jadwal Libur Sekolah Ramadan dan Lebaran 2026

Minggu, 8 Februari 2026 - 15:56 WIB

Vokalis 3 Doors Down Meninggal Dunia Usai Lawan Kanker Ginjal

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:26 WIB

Radio Ekraf Siaran Bareng 29 Radio Bandung: Bangkitkan Ekosistem Kreatif Lokal

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:00 WIB

Profil Juke Band Rilis Single Berjudul “Cerita Kita”

Senin, 2 Februari 2026 - 08:35 WIB

Radio Pensiunan Pabriknya Kebahagiaan: Cara Asyik Menikmati Masa Tua

Berita Terbaru