Mengulas evolusi bahasa prokem atau bahasa gaul khas radio dari era 80-an hingga media sosial. Simak sejarah dan pengaruhnya terhadap gaya bicara anak muda.
INTINYA ADALAH:
- Bahasa prokem atau bahasa gaul khas radio telah bertransformasi dari sekadar bahasa sandi menjadi tren komunikasi massa lintas generasi.
- Penggunaan istilah unik oleh penyiar berfungsi sebagai alat segmentasi pendengar sekaligus pembentuk loyalitas komunitas.
- Meski bersifat informal, penggunaan bahasa gaul di media tetap bersinggungan dengan regulasi etika penyiaran dan standar kesantunan publik.
Bahasa Prokem atau Bahasa Gaul Khas Radio: Jejak Identitas dari Masa ke Masa
Ada masa di mana mendengarkan radio bukan sekadar mencari musik, melainkan upaya “mencuri” istilah-istilah keren agar tidak dianggap kuper. Lewat desis frekuensi FM, para penyiar menyelipkan kode-kode bahasa yang kemudian tumpah ke jalanan, pasar, hingga sekolah. Dari kata “bokap” yang legendaris hingga istilah “flexing” di era podcast, radio telah menjadi rahim bagi lahirnya identitas tutur anak muda. Ini bukan sekadar soal kata-kata plesetan, melainkan sebuah bentuk perlawanan budaya yang dibalut keceriaan di balik mikrofon.
JAKARTA, FDRINDONESIA.COM – Menilik sejarah komunikasi di Indonesia, bahasa prokem atau bahasa gaul khas radio memegang peranan vital sebagai katalisator gaya bicara lintas generasi.
Sejak dekade 1970-an, radio bukan hanya medium informasi, melainkan produsen tren bahasa yang organik.
Fenomena bahasa prokem atau bahasa gaul khas radio ini mencerminkan dinamika sosial masyarakat, di mana udara menjadi ruang eksperimen linguistik yang paling bebas namun tetap memiliki batas-batas tak kasat mata.
Era keemasan radio di tahun 80-an dan 90-an, misalnya, memperkenalkan struktur bahasa prokem yang menyelipkan sisipan “-ok-” di tengah kata. Sebut saja istilah “pembantu” menjadi “pembokis” atau “bapak” menjadi “bokap”.
Istilah-istilah ini awalnya muncul dari kebutuhan akan bahasa rahasia antar-komunitas, namun kemudian dipopulerkan secara masif oleh para penyiar legendaris di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hingga akhirnya menjadi bahasa sehari-hari.
Evolusi Istilah Penyiar Radio dan Pergeseran Makna
Setiap zaman memiliki “kamus” udaranya sendiri. Di awal 2000-an, kita mengenal istilah “curcol” atau “galau” yang meledak lewat program-program interaktif radio swasta.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa radio sangat adaptif terhadap keresahan audiensnya. Istilah penyiar radio yang awalnya kaku mulai mencair menjadi bahasa tongkrongan yang akrab, menciptakan ilusi bahwa penyiar adalah teman dekat pendengar.
Namun, di balik keluwesan tersebut, ada pakem yang menjaga agar siaran tetap berada di koridor yang tepat. Mengutip Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nomor 01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran, pada Pasal 9, disebutkan bahwa: “Lembaga penyiaran wajib menghormati nilai dan norma kesopanan serta kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat.”
Hal ini menjadi tantangan bagi praktisi media. Dampaknya, penyiar harus mampu memilah mana bahasa gaul yang bersifat kreatif-edukatif dan mana yang justru menjurus pada kata-kata kasar atau penghinaan (slang negatif). Kebijakan internal stasiun radio biasanya memiliki “buku panduan gaya” agar bahasa prokem yang digunakan tetap memiliki nilai estetika dan tidak menyinggung SARA.
Sejarah Bahasa Prokem dan Pengaruh Media Sosial
Memasuki tahun 2025, batas antara radio dan media sosial semakin kabur. Banyak istilah yang lahir di TikTok justru kini diadopsi oleh penyiar radio untuk tetap relevan dengan Gen Z dan Alpha.
Pengaruh sosiolinguistik media ini menciptakan siklus bahasa yang sangat cepat. Istilah seperti “POV”, “Spill the tea”, atau “Gaspol” kini lazim terdengar di sela-sela pemutaran lagu hit harian.
Sejatinya, kekuatan radio terletak pada “teater pikiran”. Bahasa gaul membantu pendengar memvisualisasikan persona penyiar.
Ketika seorang penyiar menggunakan bahasa prokem yang pas, pendengar merasa menjadi bagian dari kelompok eksklusif. Transisi dari bahasa formal ke bahasa prokem yang halus membuat konten siaran terasa lebih organik dan tidak membosankan.
Masa Depan Bahasa Gaul di Ruang Udara
Meski platform streaming audio dan podcast kian menjamur, radio terestrial tetap punya taji dalam mempertahankan dialek lokal. Di Yogyakarta, Bandung, atau Surabaya, radio masih menjadi penjaga gawang bahasa gaul khas daerah masing-masing yang unik. Inilah yang membuat radio tetap punya tempat di hati pendengar: kemampuannya untuk bicara “bahasa yang sama” dengan rakyat.
Ke depan, penggunaan bahasa prokem diprediksi akan semakin terfragmentasi sesuai dengan algoritma minat pendengar. Namun satu yang pasti, selama radio masih mengandalkan suara sebagai senjatanya, maka kreativitas berbahasa akan terus menjadi nyawa utama. Bahasa gaul bukan hanya soal gaya-gayaan, tapi soal bagaimana kita merayakan kemerdekaan berekspresi dalam keterbatasan frekuensi.






