INTINYA ADALAH
- Teknik presentasi on-air menjadi fondasi pembentukan persona penyiar
- Persona yang kuat meningkatkan kedekatan penyiar dengan audiens
- Industri penyiaran mendorong profesionalisme tanpa menghilangkan karakter personal
JAKARTA – Teknik presentasi on-air kini tidak lagi dipahami sebatas kemampuan membaca naskah dengan artikulasi jelas. Teknik presentasi on-air berkembang menjadi keterampilan strategis dalam membangun persona penyiar yang unik, menarik, sekaligus kredibel di mata publik.
Di tengah persaingan media yang semakin ketat, penyiar dituntut memiliki karakter yang mudah dikenali tanpa kehilangan akurasi informasi dan etika siaran. Persona inilah yang kerap menjadi pembeda antara penyiar yang sekadar hadir di layar dan penyiar yang benar-benar diingat audiens.
Peran Teknik Presentasi On-Air dalam Membentuk Persona Penyiar
Persona penyiar terbentuk dari kombinasi gaya bicara, bahasa tubuh, ekspresi wajah, hingga cara merespons situasi tak terduga saat siaran langsung. Teknik presentasi on-air membantu penyiar mengelola semua elemen tersebut agar tampil natural, konsisten, dan sesuai konteks program.
Dalam praktiknya, penyiar berita cenderung mengedepankan ketenangan dan kejelasan, sementara penyiar program hiburan diberi ruang lebih luas untuk menampilkan ekspresi personal. Meski berbeda pendekatan, keduanya tetap berpijak pada prinsip yang sama: komunikasi yang efektif dan dapat dipercaya.
Standar Profesional dan Etika Penyiaran
Pengembangan persona penyiar tidak bisa dilepaskan dari regulasi penyiaran. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran menegaskan bahwa isi siaran harus menjunjung nilai informasi, pendidikan, dan tanggung jawab sosial.
Pasal 36 ayat (4) UU Penyiaran menyebutkan bahwa isi siaran wajib menjaga kesopanan, tidak menyesatkan, serta menghormati norma yang berlaku di masyarakat. Dalam konteks ini, persona penyiar harus dibangun tanpa melanggar batas etika atau memicu kontroversi yang tidak perlu.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga secara konsisten mengingatkan lembaga penyiaran untuk memastikan penyiar memahami perannya sebagai representasi institusi media. Gaya personal diperbolehkan, selama tidak mengaburkan fakta atau opini pribadi dalam program berita.
Tantangan Penyiar di Era Media Digital
Perubahan pola konsumsi media turut memengaruhi teknik presentasi on-air. Audiens kini tidak hanya menonton televisi atau mendengarkan radio, tetapi juga mengikuti penyiar melalui potongan video di media sosial dan platform digital.
Kondisi ini menuntut penyiar untuk lebih adaptif. Persona yang dibangun di layar televisi perlu tetap relevan ketika tampil di platform digital, tanpa kehilangan konsistensi karakter. Bagi industri, hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperluas jangkauan audiens.
Pelatihan dan Pengembangan Kompetensi Penyiar
Sejumlah lembaga penyiaran mulai menaruh perhatian lebih pada pelatihan teknik presentasi on-air. Materi pelatihan tidak hanya mencakup vokal dan artikulasi, tetapi juga pengelolaan emosi, improvisasi, serta pemahaman audiens.
Langkah ini sejalan dengan kebutuhan industri untuk menghadirkan penyiar yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga mampu membangun koneksi emosional dengan pemirsa dan pendengar. Persona yang kuat dinilai dapat meningkatkan loyalitas audiens terhadap program.
Dampak bagi Industri Penyiaran
Bagi industri penyiaran nasional, penguatan teknik presentasi on-air berkontribusi langsung pada kualitas siaran. Penyiar dengan persona yang jelas dan konsisten membantu memperkuat identitas program, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap media.
Namun, pengamat media mengingatkan pentingnya keseimbangan antara karakter personal dan objektivitas. Persona yang terlalu dominan berisiko menggeser fokus dari substansi informasi, terutama dalam program berita.
Arah Perkembangan ke Depan
Ke depan, teknik presentasi on-air diperkirakan akan semakin terintegrasi dengan strategi multiplatform. Penyiar tidak hanya dituntut piawai di depan kamera atau mikrofon, tetapi juga mampu menjaga persona yang sama di ruang digital.
Bagi penyiar, tantangan utamanya adalah tetap autentik tanpa melanggar standar profesional. Sementara bagi industri, pengembangan persona penyiar menjadi bagian dari upaya menjaga relevansi media di tengah perubahan cepat ekosistem informasi.






