iHeartMedia Q2 2025 mencatat hasil keuangan yang dinilai solid meski pasar masih penuh ketidakpastian.
Perusahaan media besar asal Amerika Serikat itu melaporkan pendapatan sebesar $934 juta pada kuartal kedua, naik tipis 0,5% dibanding periode sama tahun lalu.
Yang mengejutkan, iHeart berhasil membalikkan rugi operasional sebesar $910 juta di 2024 menjadi laba operasional $35 juta tahun ini.
Podcast Jadi Mesin Pertumbuhan
Pertumbuhan paling mencolok datang dari lini podcast. iHeartMedia menegaskan kembali posisinya sebagai pemimpin pasar dengan pendapatan podcast mencapai $134 juta, melonjak 28% dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, pendapatan digital non-podcast juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 5% menjadi $190 juta. Lonjakan ini dipicu permintaan iklan digital yang terus meningkat, sejalan dengan pergeseran pengiklan ke platform audio digital.
Bisnis Radio Mengalami Penurunan
Meski sektor digital bersinar, iHeart masih menghadapi tantangan di bisnis tradisional. Pendapatan siaran radio turun 7% menjadi $396 juta. Secara keseluruhan, unit Multiplatform Group yang menaungi radio dan media lainnya mengalami penurunan pendapatan sebesar 5,4%.
Manajemen menyebut kondisi pasar iklan yang tidak menentu sebagai penyebab utama pelemahan di segmen siaran radio. Walau begitu, perusahaan menegaskan komitmennya untuk “menyalakan kembali pertumbuhan bisnis broadcast radio” melalui inovasi dan integrasi teknologi.
Efisiensi Lewat Teknologi dan AI
Upaya efisiensi menjadi agenda besar iHeartMedia. Perusahaan menargetkan penghematan biaya sebesar $150 juta hingga 2025 dengan memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Namun, strategi ini sebagian besar berdampak pada pengurangan karyawan. Laporan resmi menunjukkan sekitar 65% dari penghematan berasal dari pemangkasan tenaga kerja. Pada kuartal kedua saja, iHeart memangkas 5% biaya operasional atau setara $23,4 juta, terutama dari penurunan kompensasi karyawan dan komisi penjualan.
Meski berat, manajemen menyebut langkah ini penting untuk menjaga daya saing di industri media yang terus berubah.
Inovasi Ad Tech dan Integrasi Digital
Chairman/CEO Bob Pittman menyebut hasil kuartal ini “solid dan sedikit di atas ekspektasi awal.” Ia menekankan fokus perusahaan pada pembangunan platform iklan terintegrasi.
“Kami terus membuat kemajuan pada platform ad tech kami, khususnya untuk memungkinkan inventori iklan radio dibeli dan dijual layaknya iklan digital,” ujar Pittman. “Langkah ini membuat radio menjadi bagian dari sistem pembelian media digital yang lebih besar.”
Pittman juga mengumumkan penunjukan Lisa Coffey sebagai Chief Business Officer baru. Pengalaman Coffey di bidang ad tech, digital, dan periklanan mobile, termasuk di Amazon, dianggap sebagai amunisi penting bagi iHeart dalam memperluas inovasi bisnis.
Tantangan dan Prospek iHeartMedia Pada Kuartal Berikutnya
Meski laporan kuartal ini relatif positif, iHeart tetap berhati-hati. Presiden/COO/CFO Rich Bressler menegaskan bahwa perusahaan masih berada “di jalur yang tepat” untuk mencapai target penghematan $150 juta di tahun 2025.
Namun, iHeart memperkirakan pendapatan secara keseluruhan akan kembali turun tipis di kuartal ketiga. Pasar iklan yang fluktuatif masih menjadi risiko utama, terutama untuk bisnis broadcast radio yang sedang berjuang.
Radio vs Podcast: Pergeseran Besar Industri Audio
Kisah iHeartMedia mencerminkan realitas industri audio global. Radio konvensional menghadapi tekanan besar dari perubahan perilaku audiens dan pengiklan. Sementara itu, podcast dan platform digital tumbuh cepat karena dianggap lebih fleksibel, terukur, dan relevan dengan gaya hidup modern.
Dengan portofolio podcast yang kuat dan strategi efisiensi berbasis teknologi, iHeart terlihat siap memimpin transisi ini. Namun, tantangan utama tetap menjaga keseimbangan: bagaimana tetap merawat kekuatan radio tradisional sambil mendorong pertumbuhan digital.
Editor : nina
Sumber Berita: www.radioworld.com







