Cumulus revenue pada kuartal kedua 2025 mengalami penurunan signifikan, menandai periode penuh tantangan bagi industri media tradisional.
Presiden sekaligus CEO Cumulus Media, Mary Berner, menyebut kondisi ini sebagai “frustratingly difficult,” menggambarkan situasi ekonomi yang menekan hampir semua sektor.
Dalam laporan terbarunya, perusahaan mencatat total pendapatan bersih turun 9,2% year-over-year menjadi 186 juta dolar AS.
Penurunan ini terutama dipicu oleh lemahnya belanja iklan nasional, ditambah absennya konten olahraga langsung yang selama ini menjadi penopang utama jaringan Cumulus.
Cumulus Revenue Biaya Dipangkas, Operasi Disesuaikan
Sebagai respons, manajemen mempercepat strategi penghematan biaya. Hingga kini, perusahaan telah memangkas 175 juta dolar dalam lima tahun terakhir.
Pada Q2, tambahan 5 juta dolar berhasil dihemat melalui restrukturisasi jaringan penjualan, hingga outsourcing penuh untuk operasi lalu lintas.
Cumulus juga mengumumkan rencana menjual aset non-inti senilai 14 juta dolar, termasuk lahan dan beberapa stasiun kecil, yang diproyeksikan selesai sebelum akhir tahun.
Meskipun penghematan dianggap perlu, Berner menegaskan Cumulus tetap berkomitmen menjaga siaran live dan lokal sebagai fondasi bisnis. “Hubungan on-air yang terpercaya membangun audiens yang bertahan lama,” ujarnya.
Digital Growth Jadi Cahaya Harapan
Jika sisi tradisional melemah, digital growth justru menjadi titik terang. Meski pendapatan digital turun tipis 1,4% dibanding tahun lalu, angka ini melonjak 20% bila mengecualikan dampak penghentian kemitraan dengan Daily Wire dan Dan Bongino.
Pendapatan layanan pemasaran digital bahkan meningkat 38% year-over-year, menyumbang separuh dari total revenue digital Cumulus. Fakta menarik lainnya: 28% klien digital murni kini juga membeli iklan radio.
Tren ini menjadi bukti bahwa transformasi digital tidak hanya menopang keuangan, tetapi juga memperluas ekosistem bisnis Cumulus di tengah badai industri.
AI Acceleration: Kartu As Cumulus
Selain digital, AI acceleration menjadi senjata strategis baru. Cumulus mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam hampir semua lini bisnis:
- Melatih tim sales untuk membuat pitch yang lebih tajam.
- Menghasilkan materi kreatif secara efisien.
- Memperkuat analisis kompetitif untuk paket dan harga.
Berner optimistis, penggunaan AI bukan sekadar tren, melainkan fondasi pertumbuhan jangka panjang. “Kami bersemangat dengan peluang besar yang tercipta dari adopsi AI,” tegasnya.
Podcast dan Streaming: Pertumbuhan Konsisten
Selain digital marketing, Cumulus juga mencatat lonjakan 30% pada pendapatan podcasting dibanding tahun lalu. Streaming dan podcast dianggap sebagai medium masa depan, menarik audiens yang lebih muda dan mobile.
Bahkan, Cumulus berhasil meraih pertumbuhan pangsa pasar iklan broadcast selama 11 kuartal berturut-turut di pasar PPM—sebuah catatan penting di tengah turbulensi industri.
Tantangan Kuartal Berikutnya
Meski ada titik cerah, Cumulus memproyeksikan Q3 revenue masih akan turun dua digit. Pertumbuhan digital diyakini dapat mengurangi tekanan, namun belum sepenuhnya menutup penurunan dari sisi siaran tradisional.
EVP sekaligus CFO Frank Lopez-Balboa menambahkan, melemahnya iklan nasional masih menjadi masalah utama. Ia menilai, turunnya suku bunga di masa depan bisa menjadi obat, meski sejauh ini efeknya belum terlihat.
Komitmen pada Live dan Lokal
Di balik strategi digital dan AI, Berner menegaskan Cumulus tidak akan meninggalkan identitas utamanya sebagai media berbasis komunitas. “Live dan lokal tetap jantung kami,” katanya.
Ia menekankan, kepercayaan pendengar terhadap penyiar lokal adalah aset tak ternilai, yang mampu membuka peluang tambahan untuk sponsor dan endorsement.
Turunnya Cumulus revenue di Q2 memang menjadi sinyal keras bahwa industri media tradisional belum keluar dari masa sulit. Namun, digital growth, akselerasi AI, serta komitmen pada siaran lokal memberi alasan untuk tetap optimistis.
Cumulus kini berada di persimpangan: bertahan dengan model lama, atau bertransformasi agresif ke era digital. Dari semua langkah yang diambil, satu hal jelas: perusahaan memilih jalan kedua—menjadikan teknologi dan inovasi sebagai jangkar di tengah badai.
Sumber Berita: www.radioworld.com






