Industri radio masih perkasa di tengah derasnya arus digitalisasi media yang mengguncang banyak sektor penyiaran.
Fakta mengejutkan ini terungkap dalam sebuah survei mendalam yang dilakukan oleh Pengurus Daerah PRSSNI Jawa Barat, yang menunjukkan bahwa 63% masyarakat di wilayah tersebut masih aktif mendengarkan radio.
Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa radio belum usang—justru sedang membangun wajah barunya melalui adaptasi, inovasi, dan kolaborasi lokal yang inspiratif.
Radio Tetap Didengar di Tengah Digitalisasi
Survei yang dirilis dalam rangka SPD III PRSSNI Jawa Barat 2025 memetakan perubahan perilaku pendengar secara presisi. Hasilnya cukup mengejutkan: 56% pendengar masih memilih radio analog, sementara sisanya beralih ke kanal digital seperti aplikasi streaming (21%), layanan audio non-radio (18%), dan platform media sosial (5%).
Angka-angka ini membuktikan bahwa radio tak sekadar bertahan, tapi berevolusi. Ia hadir bukan hanya di rumah dan mobil, tapi juga di smartphone, menyatu dalam keseharian generasi baru yang haus akan konten instan namun tetap bermakna.
Apresiasi Sekretaris Umum PRSSNI: Sebuah Langkah Visioner
Langkah PD PRSSNI Jabar dalam menyelenggarakan survei ini menuai apresiasi dari Sekretaris Umum PRSSNI Pusat. Ia menilai upaya ini bukan hanya mendalam dan relevan, tapi juga sangat strategis untuk merancang masa depan industri radio nasional.
Survei bukan sekadar angka. Ia adalah cermin realitas yang memberi arah. Bagi industri radio, data lokal seperti ini menjadi bahan bakar untuk menciptakan konten yang tajam, program iklan yang tepat sasaran, dan strategi bisnis yang realistis.
“Saya memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif PD PRSSNI Jawa Barat. Survei ini memberikan harapan besar dan bukti kuat bahwa radio masih sangat didengarkan, khususnya di wilayah seperti Jawa Barat. Data seperti ini sangat berharga untuk pengembangan strategi konten dan membangun kepercayaan diri pelaku industri,” ungkap Sekum PRSSNI Pusat.
Inovasi Lokal yang Menginspirasi Nasional
Apa yang dilakukan PRSSNI Jawa Barat bukan hanya pencatatan, tapi pergerakan. Mereka tak berhenti di survei. Berbagai pelatihan, forum diskusi, dan program lintas stasiun radio terus digelar untuk memperkuat ekosistem penyiaran di wilayahnya.
Dari sisi konten, radio-radio anggota mulai banyak menghadirkan siaran yang interaktif, berakar pada kearifan lokal, dan menjangkau berbagai generasi. Bahkan banyak di antaranya telah menjalankan siaran lintas platform—mengudara sekaligus menyapa lewat media sosial dan podcast.
Industri Radio Masih Perkasa: Fleksibel, Cepat, dan Dekat
Apa yang membuat radio tetap dicintai? Jawabannya terletak pada kekuatan emosionalnya. Suara penyiar yang akrab, informasi lokal yang akurat, dan fleksibilitas platform menjadikan radio relevan di tengah kebisingan media digital.
Di saat media lain berlomba dengan algoritma, radio menawarkan sesuatu yang berbeda: kehangatan, kedekatan, dan kepercayaan. Hal inilah yang menjadikannya tak tergantikan, bahkan di era ketika segalanya tampak bisa digantikan oleh mesin.
Masa Depan Radio: Bukan Bertahan, Tapi Bangkit
Survei PRSSNI Jawa Barat dan dukungan dari pengurus pusat menjadi momentum penting dalam membangun kembali optimisme industri radio. Ini bukan soal mempertahankan yang lama, tapi tentang menciptakan masa depan baru yang lebih berdaya, berani, dan berbasis data.
Industri radio bukanlah kenangan, melainkan harapan. Dengan strategi yang tepat, semangat kolaboratif, dan keberanian untuk terus berevolusi, radio Indonesia akan tetap bersuara lantang, bahkan di tengah badai transformasi digital.







